Gejala DBD (Demam Berdarah) pada Anak 1 Tahun, 2 Tahun dan 3 Tahun

Dewasa ini ada banyak sekali macam penyakit berbahaya. Salah satunya adalah DBD atau yang biasa dikenal juga dengan sebutan demam berdarah dengue. Orang tua khususnya harus menyadari Gejala DBD tersebut sejak dini. Biasanya anak umur  1 tahun, 2 tahun, 3 tahun sangat rentan terkena penyakit yang satu ini. Apalagi di Indonesia sendiri merupakan negara dengan iklim tropis yang bisa menjadi habitat ideal nyamuk Aedes aegypti. Penyuluhan seputar cara mencegah penyakit DBD pun terus dilakukan.


Tidak hanya pada anak anak dan orang dewasa, bayi saja seperti umur 3 bulan atau 10 bulan dapat terjangkit penyakit yang bisa mematikan ini dengan siklus yang cepat. Ciri ciri dan karakteristik munculnya penyakit ini pun bisa dilihat, namun tidak terlalu terlihat pada fase awal atau pertama. Orang tua khususnya dihimbau untuk jeli dan teliti ketika anak mengalami bintik merah atau demam tinggi yang tidak turun turun. Tingkat pencegahan memang sangat penting, namun apabila sudah terjangkit perawatan khusus perlu segera dilakukan.

Anda pasti bertanya tanya bagaimana cara spesifiknya kita bisa mengenali Gejala demam berdarah ini? Khususnya pada bayi dan anak anak. Sebab kalau bertindak lamban dalam penanganan karena tidak sadar, tentu saja akan berdampat buruk terhadap kesehatan. Anda juga harus tahu pertolongan pertama yang dilakukan orang tua ketika anak terserang DBD. Dengan tindakan yang cepat, DBD bisa ditangani lebih cepat dan persentase sembuh akan lebih besar.

Baca Juga :

Gejala penyakit DBD pun berbeda beda, misalnya gejala demam berdarah pada bayi dan balita akan lebih sulit terdeteksi. Bahkan kebanyakan bayi dan balita yang baru terserang penyakit demam berdarah ini bisa jadi tidak memperlihatkan gejala nya secara spesifik. Karena faktor ini lah orang tua memang harus lebih waspada dengan setiap perubahan kecil yang dialami oleh tubuh anak. Untuk itu, sebagai berikut akan dijelaskan secara lebih terperinci dan lengkap cara mengetahui gejala DBD pada anak. Cekidot.

Gejala DBD (Demam Berdarah) pada Anak 1 Tahun, 2 Tahun dan 3 Tahun

Seseorang dapat mulai terjangkit penyakit DBD dalam kurun waktu 4 sampai dengan 10 hari setelah tergigit oleh nyamuk yang membawa virus dengue tersebut. Pada saat terserang demam berdarah ini, maka si kecil akan menunjukkan beberapa tanda dan ciri –ciri gejala sebagai berikut :
  1. Demam tinggi selama kurang lebih 2 sampai tujuh hari berturut –turut. Suhu demamnya pun dapat mencapai hingga 39 atau 41 derajat celcius.
  2. Adanya gangguan pencernaan, seperti halnya muntah, mual, dan nyeri perut.
  3. Nafsu makan terus berkurang bahkan anak –anak cenderung tidak mau menyusu sama sekali.
  4. Terlihat lebih sering mengantuk.
  5. Lebih rewel dari pada kebiasaannya sehari –hari
  6. Adanya ruam pada kulitnya
  7. Adanya gusi berdarah dan mimisan
  8. Terdapat darah di urine, kotorannya atau bahkan muntahannya
  9. Sering sesak nafas

Apabila sikecil Anda mengalami gejala –gejala diatas, segera bawalah ke dokter terdekat atau rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan secara cepat. Nah, untuk kemunculan gejala demam berdarah pada anak ini sendiri terdiri dari tiga tahapan fase atau yang mungkin Anda kenal juga dengan sebutan Siklus Pelana Kuda. Dalam fase ini akan menggambarkan kondisi naik dan turunnya panas demam. Ini juga yang menandakan proses perlawanan dalam tubuh sedang menghadapi infeksi virus dengue. Untuk lebih mengenalnya, di bawah ini adalah tahapan fase demam berdarah :

1. Fase Demam

Fase demam adalah fase yang pertama –tama dilalui oleh para pengidap DBD. Terjadi untuk anak –anak maupun juga orang dewasa. Sedangkan untuk gejalanya sendiri sang anak akan mengalami demam secara mendadak dan tiba –tiba hingga suhu 40 derajat celcius selama jangka waktu 2 hingga 7 hari. Ciri lebih spesifik pada fase ini, tubuh anak akan terdapat bintik atau ruam merah di beberapa bagian, di tambah lagi dengan adanya nyeri otot. Bahkan parahnya beberapa anak mungkin dapat mengalami gejala hingga kejang.

Selain itu juga anak dalam fase ini akan sangat rentan terhadap dehidrasi atau kondisi dimana adanya kekurangan mineral atau cairan. Pada gejala dehidrasi inilah yang paling bisa membedakan antara kasus DBD pada orang dewasa dan anak –anak. Sebab anak –anak akan cenderung sangat mudah terkena kondisi kekurangan cairan pada saat demam tinggi berbeda dengan orang yang sudah dewasa.

2. Fase Kritis

Selanjutnya, setelah melewati 2 sampai 7 hari terserang demam maka fase selanjutnya yang harus dilalui adalah fase kritis. Biasanya fase ini bisa mengecoh, sebab suhu tubuh bisa saja turun hingga 37 derajat celcius. Disini anak bisa dianggap sudah kembali sembuh. Beberapa anak juga pada fase ini bisa melakukan aktivitas kembali dan ceria. Namun, tahukah Anda? Pada fase inilah orang tua harus lebih waspada. Sebab ciri –ciri demam berdarah pada fase ini berpotensi berbahaya.

Pada fase kritis, anak kecil lebih beresiko mengalami adanya kebocoran plasma atau pembuluh darah. Apabila ini terjadi kemungkinan yang terjadi adalah mengakibatkan kerusakan organ dan adanya pendarahan hebat dalam tubuh. Fase ini ditandai dengan gejala muntah, mimisan, pembesaran organ hati bahkan nyeri perut yang semakin parah.

3. Fase Penyembuhan

Apabila anak berhasil melewati masa menegangkan yakni masa kritis, ada beberapa ciri dan tanda yang bisa memperlihatkan bahwa ia sudah sehat kembali. Ciri –ciri khususnya adalah adanya kadar trombosit yang mulai turun kembali menjadi normal. Secara perlahan –lahan demam pada anak pun akan berangsur –angsur segera hilang. Mungkin ada beberapa kondisi si anak akan kembali merasakan demam kembali, namun disini orang tua tidak perlu cemas sebab hal ini normal saja dalam tahap penyembuhan. Setelah fase penyembuhan ini muncul, maka secara otomatis jumlah cairan di tubuhnya pun akan kembali normal secara perlahan.

Lihat Juga : trendtips.net (Blog Kesehatan)

Inilah informasi seputar penanganan pertama pada anak saat terserang penyakit DBD atau demam berdarah. Dengan tips mengetahui secara cepat dan tepat penyakit ini, Anda bisa turut meminimalisir kondisi yang lebih parah lagi. Karena mengetahui begitu bahaya nya penyakit ini, alangkah lebih baik untuk Anda bersama keluarga selalu waspada dan hati –hati pada setiap ancaman penyakit yang ada. Tidak hanya DBD, tetapi juga terhadap penyakit lainnya yang berada di sekitar lingkungan kita.

Memang benar lebih baik mencegah daripada mengobati. Terus lengkapi pengetahuan Anda dan terapkan pola hidup sehat, tidak hanya bagi diri sendiri, keluarga dan orang –orang terdekat Anda. Tapi cobalah untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan sekitar Anda. Apakah dari lingkungan tersebut bisa dikatakan sumber datangnya penyakit DBD atau tempat yang cocok berkembang biaknya nyamuk? Apakah tempatnya kurang memadai dalam kebersihannya? Cobalah seimbang dan pikirkan kesehatan Anda dan untuk keluarga. Sekian informasi ini dan terus waspada!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel