Hasil sidang Ahok sampai dengan hari ini, Selasa 20 Desember 2016

Hasil sidang Ahok sampai dengan hari ini, Selasa 20 Desember 2016

Hasil sidang Ahok sampai dengan hari ini, Selasa 20 Desember 2016

Kasus yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama atau sering di panggil Ahok terus berlanjut, dimana sebelumnya telah dilakukan persidangan minggu lalu pada hari selasa 13 Desember 2016 untuk mendengarkan pidato pembelaannya. Masih inggat dalam ruang sidang tersebut Ahok menangis dan bersedih karena di tuduh menista Agama Islam, seperti yang di ungkapkan jika dia menista Agama Islam sama saja dia menista orang tua angkatnya sendiri. Selesai membacakan pembelaan adapaun Tim Kuasa Hukum Ahok menolak dakwaan Jaksa seperti hasil sidang sebelumnya baca disini : Hasil sidang Ahok sementara sampai dengan hari ini 13 Desember 2016.

Pada hari ini Sidang Ahok yang kedua untuk mendengarkan tanggapan Jaksa penuntut umum (JPU) atas nota keberatan yang di sampaikan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Tim Pengacaranya. Pada hari ini pada Jam 09.00 sidang tersebut akan berlangsung seperti minggu lalu tetapi di Prediksi tidak akan berjalan secara Live karena keterbatasan tempat persidangan.

Dengan adanya persidangan ini maka apakah Ahok akan tetap mengikuti pemilihan Gubernur (PilGub) Jakarta ? pertanyaan ini terus saja menjadi pertanyaan besar untuk kalangan masyarakat. Banyak sekali Pro dan Kontra, Mendukung selalu ahok dan ada pula yang selalu menjatuhkan ahok untuk dapat segera di Penjarakan. Jika kita lihat dari pengalaman Sidang Jesica yang berjalan cukup panjang sampai dengan berbulan bulan maka mastimon.com juga memprediksi Sidang Ahok akan berjalan panjang dan di mungkinkan Ahok tetap mengikuti Pemilihan Gubernur Jakarta.

Simpan Link artikel ini karena mastimon,com akan Update berita terbaru seputar Persidangan Ahok hari ini 20 Desember 2016. Berikut adalah hasil sidang sementara hari ini dikutip dari news.detik.com

Saling Sahut Jaksa dan Pengacara Ahok, Hakim: Keberatan Dicatat

Tim penasihat hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) 'interupsi' meminta diberi waktu menanggapi pendapat jaksa penuntut umum atas nota keberatan (eksepsi). Jaksa meminta tim pengacara Ahok tak 'mengacaukan' ketentuan hukum acara pidana dalam persidangan.

"Kami perlu sampaikan ketentutan pasal 156 ayat 1 KUHAP jangan dikacaukan dengan pasal 182 KUHAP (tentang) replik-duplik, ini demi tertib hukum acara pidana yang berlaku," kata Jaksa Ali Mukartono berbicara tegas menjawab permintaan pengacara Ahok di PN Jakut, Jl Gajah Mada, Jakpus, Selasa (20/12/2016).

Kubu Ahok membalas jawaban jaksa yang dianggap tidak mengakomodir permintaan untuk memberikan tanggapan lisan atas pendapat jaksa.

"Sesuai dengan prinsip KUHAP bahwa terdakwa akan selalu diberikan kesempatan terakhir menyatakan pendapatnya. Prinsip ini mengalahkan semua ketentuan pasal-pasal itu," sahut seorang pengacara Ahok menyanggah pernyataan jaksa.

Hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto langsung menengahi kubu pengacara Ahok dan jaksa dengan bermusyawarah bersama hakim anggota. Keputusannya, tim pengacara Ahok tak diberi kesempatan menanggapi lisan pendapat tim jaksa.

"Setelah majelis bermusyawarah, majelis berpendapat oleh karena ini sudah diatur secara tegas pasal 156 ayat 1. Keberatan saudara bisa kami catatan dalam berita acara persidangan," ujar hakim Dwiarso.

Tim pengacara Ahok sebelumnya meminta waktu memberikan tanggapan lisan atas pendapat jaksa mengenai eksepsi pada sidang pekan lalu. Jaksa dalam tanggapannya meminta majelis hakim menolak seluruh keberatan Ahok dan tim pengacara dan meminta sidang pemeriksaan perkara dilanjutkan.

Kubu Ahok lantas meminta waktu untuk kembali menanggapi tanggapan jaksa. Namun jaksa yang dipimpin Ali Mukartono meminta majelis hakim mengabaikan permintaan tim Ahok karena tidak sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana.

"Sesuai ketentuan pasal 156 ayat 1 KUHAP bahwa setelah keberatan diatur pendapat penuntut umum. Setelah tanggapan penuntut umum itu majelis hakim setelah mendengar mengambil keputusan jadi setelah pendapat penuntut umum tidak ada keberatan lagi dari penasihat hukum," kata Ali.

Ahok didakwa melakukan penodaan agama dengan dakwaan Pasal 156 a KUHP karena menyebut dan mengaitkan surat Al Maidah 51 dengan Pilkada DKI. Penyebutan surat Al Maidah 51 saat bertemu warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 dianggap sengaja dimanfaatkan Ahok untuk Pilkada.

Jaksa Tolak Keberatan Ahok, Hakim Putuskan Kelanjutan Sidang Pekan Depan

Majelis hakim akan memutuskan kelanjutan sidang pemeriksaan perkara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pekan depan. Keputusan ini akan diambil dalam sidang putusan sela.

"Setelah majelis bermusyaswarah majelis berpendapat oleh karena ini sudah diatur secara tegas Pasal 156 ayat 1 dan itu bahkan aturannya mengikat. Maka kami akan menunda sidang ini untuk acara keputusan. Maka untuk sidang putusan akan kami tunda sidang ini, kami laksanakan Selasa pekan depan 27 Desember dengan perintah terdakwa tetap hadir," ujar hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto sebelum menutup sidang di PN Jakut Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/7/2016).

Dalam tanggapan atas nota keberatan (eksepsi) Ahok, tim jaksa yang dipimpin Ali Mukartono meminta majelis hakim melanjutkan sidang pemeriksaan perkara.
Jaksa menyebut seluruh alasan keberatan yang diajukan oleh Ahok dan penasihat hukum tidak punya dasar hukum.

Karena itu, majelis hakim diminta menyatakan surat dakwaan terkait penodaan agama telah dibuat secara sah menurut hukum dan melanjutkan sidang pemeriksaan perkara.

"Terdakwa dalam surat penuntut umum didakwa melanggar Pasal 156 a dalam dakwaan pertama, tidak melanggar prosedur sebagaimana Undang-undang No 1/PNPS/1965 (tentang pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan agama). Pasal 156 a yang didakwakan terhadap terdakwa bukan prematur," ujar jaksa Ali membacakan tanggapan atas eksepsi pegnacara Ahok.

Ahok didakwa melakukan penodaan agama karena menyebut dan mengaitkan surat Al Maidah 51 dengan Pilkada DKI saat bertemu warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.

"Ini kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun saya berhentinya Oktober 2017. Jadi kalau program ini kita jalankan baik, saya yakin bapak ibu masih sempat panen sama saya sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. Jadi cerita ini supaya bapak ibu semangat, jadi nggak usah pikiran ah nanti kalau nggak terpilih pasti Ahok programnya bubar, enggak saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak-ibu ya. Jadi kalau bapak-ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa," kata jaksa membacakan ulang pernyataan Ahok di Pulau Pramuka yang tercantum dalam surat dakwaan.

"Bahwa dengan perkataan terdakwa tersebut seolah-olah surat Al Maidah 51 telah dipergunakan oleh orang lain untuk membohongi atau membodohi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah, padahal terdakwa sendiri yang mendudukan atau menempatkan surat al Maidah 51 sebagai alat atau sarana untuk membohongi dan membodohi dalam proses pemilihan kepala daerah," tutur jaksa dalam surat dakwaan yang dibacakan pekan lalu, Selasa, 13 Desember 2016.

Sidang ahok hari selasa Sidang ahok 20/12/2016 Sidang ahok 20-12-2016 Sidang Ahok 20 Des 2016 Sidang Ahok Hasil sidang ahok pagi ini Hasil sidang ahok siang ini Hasil sidang ahok sore ini Hasil sidang ahok malam ini hasil sidang ahok kemaren hasil sidang ahok kemarin Hasil sidang ahok sementara Hasil sidang ahok Final hasil sidang ahok terakhir hasil sidang ahok terbaru hasil sidang ahok terupdate Ahok dipenjara Ahok bebas bersyarat. Ahok tidak dapat mengikuti Pilgub Ahok masih mengikuti Pilgub DKI Jakarta pada 2017.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments